Wlcome Tab

Showing posts with label Urban and Regional Planning. Show all posts
Showing posts with label Urban and Regional Planning. Show all posts

Friday, 18 October 2013

Prasarana Jalan : Jalan Modern Jepang dan Jalan Berlobang Indonesia

Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia memerlukan ruang gerak untuk berpindah baik dekat maupun jauh, sehingga memerlukan bantuan khusus berupa kendaraan agar lebih efisien. Kendaraan memerlukan ruang berupa jalan, yang merupakan salah satu fasilitas terpenting untuk menunjang kemajuan perekonomian di Indonesia. Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk banguan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
Sebagai penunjang utama dalam kemajuan perekonomian di Indonesia, sudah selayaknya jalan dibangun dengan rencana yang matang dan struktur yang baik dari segi kelembagaannya maupun keuangannya agar tercipta masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, pada kenyataannya jalan di Indonesia masih sangat jauh dari yang diharapkan, oleh karena itu wajar apabila perekonomiannya kembang kepis atau tidak stabil. Prasarana jalan masih terabaiakan, pengguna jalan pada akhirnya menjadi korban. Respon yang lambat dari pemerintah dalam mengatasi persoalan prasarana jalan mengakibatkan banyak jalan berlobang dan bergelombang dijumpai diseluruh pelosok negeri terlebih di derah pinggiran dan terpencil. Hal ini sangat jauh berbeda dengan prasarana jalan yang ada di Jepang, yang sangat tersturktur dan terintegrasi dengan baik sehingga perekonomianan terus meningkat dan menjadi negara maju.
Struktur kelembagaan yang mumpuni serta sumber keuanganan yang memadai berdampak positif terhadap perkembangan prasarana jalan di Jepang. Prasarana jalan di Jepang menggunakan teknologi yang maju dan rencana yang matang sehingga tercipta suatu mahakarya yang mempunyai fungsi maksimal dalam rangka penunjang perekonomian. Padatnya area terbangun di Jepang membawa implikasi banyak dibangunnya jalan layang yang memiliki struktur jalan yang sangat teratur terhubung dengan pusat-pusat aktivitas sehingga menciptakan efisiensi tinggi. Disamping itu jalur pedestrian pun terfasilitasi dengan baik sehingga pejalan kaki sangat nyaman dalam melangkah, hal ini berbeda dengan jalur pedestrian Indonesia yang telah tergusur oleh menjamurnya pedagang kaki lima yang berusaha mencari keuntungan semaunya, sehingga sangat sulit untuk melangkahkan kaki dan kendaraan pun menjadi pilihan akhirnya.
Respon cepat tanggap pemerintah Jepang terhadap prasarana jalan terwujud dengan tidak dijumpainya jalan yang berlobang maupun bergelombang. Jalan yang mengalami kerusakan dengan segera diperbaiki oleh pemerintah Jepang seperti kerusakan parah akibat gempa yang terjadi di Jalan Raya Kanto di Naka yang selesai diperbaiki dalam jangka waktu 6 hari setelah kejadian.

Sudah seharusnya pemerintah Indonesia berkaca pada Jepang dalam hal prasarana jalan apabila menginginkan masa depan yang lebih baik. Kelembagaan harus disusun, diorganisir dan dibangun dengan SDM yang bermutu sedangkan sumber dana harus teralokasikan dengan baik. Dan semua itu merupakan harapan unuk menciptakan negera Indonesia lebih maju dan bersinar di mata internasional.
Jalan raya di Jepang yang hancur karena gempa (kiri) dan setelah diperbaiki selama 6 hari (kanan).

Gambar : Jalan raya Kanto di Naka, Jepang 
yang hancur karena gempa (kiri) dan setelah diperbaiki selama 6 hari (kanan).

Gambar : Hebatnya Jalan Raya di Jepang (Hakozaki Junction di Tokyo)


Wednesday, 16 October 2013

Perubahan Iklim Sebagai Akibat Proses Global

Pesatnya perkembangan memberikan konsekuensi pada perubahan tata guna lahan. Adanya perubahan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan, merupakan pendorong utama perubahan lingkungan yang mengakibatkan degradasi atau kerugian dari ekosistem pada skala global. Pengalihfungsian lahan untuk kegiatan pertanian dengan melakukan pembukaan lahan secara besar serta bertambahnya angka urbanisasi yang berdampak pada kebutuhan lahan yang terus meningkat berakibat pada menurunnya kualitas sumber daya alam. Sehingga kemampuan alam dalam melakukan siklus alaminya terdegradasi dan mengakibatkan unsur-unsur yang berbahaya bagi manusia tidak mampu ternetralisir oleh alam dengan sempurna seperti Karbondioksida(CO2), Metan(CH4), Dinitro oksida(N2O), dll. Terlebih lagi makin naiknya gas buang ke udara akibat penggunaan bahan bakar fosil pada aktifitas manusia dalam kemajuan industri dan sarana transportasi serta kemajuan peradaban yang menyumbang besar dalam perubahan iklim di bumi. Aktivitas manusia di kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan jumlah Gas Rumah Kaca secara global.
Semakin meningkatnya polusi di bumi berimplikasi pada terjadinya peningkatan temperatur di bumi atau global warming. Global warming mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi lingkungan, terutama lingkungan geofisik dan lingkungan hayati. Global warming akan berdampak pada mencairnya gunung es di kutub utara dan kutub selatan sehingga menyebabkan kenaikan volume air laut. Kenaikan volume air laut menyebabkan bergesernya garis pantai sehingga dapat  memungkinkan tenggelamnya pulau-pulau. Kenaikan air laut juga dapat menimbulkan bencana seperti erosi daerah pantai dan banjir akibat air pasang, hal ini tentu akan menimbulkan kerugian dalam bidang ekonomi.
Global warming dapat meningkatkan persebaran penyakit karena dengan adanya kenaikan suhu di permukaan bumi, virus tertentu yang semula hanya mampu berkembang dalam iklim tropis kemungkinan dapat menyebar luas ke daerah lain yang memiliki suhu yang sama.

Keanekaragaman hayati yang ada di bumi juga akan terdegradasi akibat pemanasan global. Pemanasan global yang berdampak pada berubahnya iklim dan  curah hujan akan mengakibatkan beberapa spesies tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik sehingga ekosistem yang ada akan terganggu.

Tuesday, 7 May 2013

Poster Teknik Komunikasi

Poster Tema Public Space
* Poster simple dengan makna tersurat sehingga mudah dipahami oleh semua kalangan...

Saturday, 13 April 2013

Interpetrasi Citra

Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Pemakaian penginderaan jauh antara lain untuk memperoleh informasi, seperti mendeteksi sumber daya alam, daerah banjir, kebakaran hutan, dan sebaran ikan di laut. Dalam penginderaan jauh, data atau hasil observasi yang didapat disebut citra. Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang tampak dari suatu objek yang sedang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau. Berdasarkan resolusi yang digunakan, citra hasil penginderaan jarak jauh bisa dibedakan atas :
ü  Resolusi spasial
Merupakan ukuran terkecil dari suatu bentuk (feature) permukaan bumi yang bisa dideteksi oleh citra satelit. Kemampuan ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi (recognize) dan menganalisis suatu objek di bumi selain mendeteksi (detectable) keberadaannya.
ü  Resolusi Temporal
Merupakan frekuensi suatu sistem sensor merekam suatu areal yang sama (revisit) dalam suatu waktu. Seperti Landsat TM yang mempunyai ulangan setiap 16 hari, SPOT 26 hari dan lain sebagainya.
ü  Resolusi spektral
Merupakan dimensi dan jumlah daerah panjang gelombang yang sensitive terhadap sensor.
ü  Resolusi radiometrik
Merupakan ukuran sensitifitas sensor untuk membedakan aliran radiasi (radiation flux) yang dipantulkan atau diemisikan suatu objek oleh permukaan bumi.
Interpretasi citra merupakan kegiatan mengkaji foto udara atau citra inderaja dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. Di dalam intepretasi citra, penafsiran citra mengkaji citra dan berupaya melalui proses penalaran untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan analisis atau menilai arti petingnya obyek yang tegambar pada citra. Dengan kata lain maka penafsiran citra berupaya untuk mengenali obyek yang tergambar pada citra. Dan menerjemahkannya kedalam disiplin ilmu tertentu seperti ilmu perencanaan, geologi, geografi, ekologi dan disiplin ilmu lainnya.
Untuk mempermudah menafsir objek yang tergambar pada citra foto, dapat digunakan unsur-unsur yang tercermin pada objek yaitu :
1.   Rona dan warna
Rona dan warna disebut unsur dasar. Tiap obyek tampak pertama pada citra berdasarkan rona atau warnanya. Setelah warna atau rona yang sama dikelompokkan dan diberi garis batas untuk memisahkannya dari rona atau warna yang berlainan, barulah tampak bentuk, tekstur, pola, ukuran dan bayangannya. Itulah sebabnya rona dan warna disebut unsur dasar.
a.   Rona
Rona adalah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan objek pada citra, dengan demikian rona merupakan tingkat dari hitam keputih atau sebaliknya. Rona pada foto pankromatik merupakan atribut bagi objek yang berinteraksi dengan seluruh spektrum tampak yang sering disebut sinar putih, yaitu spektrum dengan panjang gelombang (0.4-0.7). Di dalam penginderaan jauh spektrum demikian disebut spektrum lebar.
a.    Cara pengukuran rona
Rona dapat diukur dengan dua cara yaitu dengan cara relatif dengan menggunakan mata biasa dan dengan cara kuantitatif dengan menggunakan alat. Dengan menggunakan mata biasa, pada umumnya rona dibedakan menjadi lima tingkat yaitu putih, kelabu-putih, kelabu, kelabu-hitam dan hitam. Dengan menggunakan alat maka rona dapat dibedakan dengan lebih pasti dan dengan tingkat pembedaan yang lebih banyak.
b.    Faktor yang mempengaruhi rona :
1.    Karakteristik objek
2.    Bahan yang digunakan
3.    Pemrososan emulasi
4.    Cuaca
5.    Letak objek
b.   Warna
Warna adalah wujud yang tampak pada mata dengan menunjukan spektrum sempit. Lebih sempit dari spektrum tampak dan tingkat kegelapan yang beragam warna biru, hijau, kuning, merah, jingga dan lainnya. Sebagai contoh, obyek tampak biru, hijau, atau merah bila ia hanya memantulkan spektrum dengan panjang gelombang (0.4-0.5), (0.5-0.6) atau (0.6-0.7), sebaliknya bila obyek menyerap sinar biru maka ia akan memantulkan warna hijau dan warna merah. Sebagai akibatnya maka obyek akan tampak dengan warna kuning. Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan didalam ujud hitam putih, warna menunjukan tingkat kegelapan yang lebih beraneka. Ada tingkat kegelapan didalam warna biru, hijau, merah, kuning, jingga dan warna lainnya
a.   Cara pengukuran warna
ü  cara integral adalah pengukuran warna gabungan yang dibuahkan oleh lapisan-lapisan zat warna, tanpa memisahkan satu persatu.
ü  cara pengukuran analitik adalah pengukuran densiti pada tiap panjang gelombang bagi tiap lapis zat warna.
b.   Faktor yang mempengaruhi warna
ü  Panjang gelombang sinar yang membentuk warna itu. Panjang gelombang (0,4-0,5) membentuk warna biru sedang warna gelombang (0,5-0,7) membentuk warna kuning.
ü  Panjang gelombang yang dominan atau panjang gelombang rata-rata yang membentuk warna disebut “hue”. Dengan kata lain hue merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi warna.
ü  Kejenuhan (soturation)
ü  Intensitas kejenuhan mencirikan julat (range) panjang gelombang yang membentuk warna. Intensitas ditentukan oleh jumlah total sinar yang dipantulkan, terlepas dari panjang gelombangnya.
2.   Bentuk
Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memerikan kerangka suatu obyek. Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak obyek yang banyak dikenali berdasarkan bentuknya saja. Dalam konteks ini bentuk dapat berupa bentuk yang tampak dari luar (umum), maupun menyangkut susunan atau struktur yang lebih rinci. Contoh : Sekolah perkantoran biasanya berbentuk huruf I, L atau U dan pohon kelapa berbentuk bintang sedang pinus berbentuk kerucut.
3.   Ukuran
Ukuran merupakan atribut obyek yang berupa jarak, luas, tinggi, lereng dan volume. Karena ukuran objek pada citra merupakan fungsi skala, maka didalam memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu diingat skalanya. sebagai contoh : ukuran suatu rumah dibedakan apakah rumah hunian, kantor, atau pabrik. Rumah hunian biasanya ukuranya relatif lebih kecil dibandingkan dengan perkantoran atau pabrik.
4.   Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona pada citra atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual. Biasanya dinyatakan dalam ujud kasar, halus atau bercak-bercak.
Contoh pengenalan obyek berdasarkan tekstur:
ü  Hutan bertekstuk kasar, belukar bertekstur sedang, semak bertekstur halus.
ü  Tanaman padi bertekstur halus,tanaman tebu bertekstur sedang,dan tanaman pekarangan bertekstur kasar.
ü  Permukiman air yang tenang bertekstur halus.
5.   Pola
Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek buatan manusia dan beberapa obyek alamiah yang membentuk susunan keruangan.contoh perumahan real estate dikenali dengan pola yang teratur sedangkan perkampungan menyebar tidak teratur; perkebunan polanya teratur dan dapat dibedakan dengan vegetasi lainnya.
6.   Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek  yang berada didaerah gelap. Bayangan juga dapat berfungsi sebagai kunci pengenalan yang penting dari beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan menjadi lebih jelas. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan umumnya tidak tampak sama sekali atau kadang tampak samar-samar. Namun demikian merupakan faktor penting untuk mengamati obyek-obyek yang tersembunyi, contoh :
ü  Cerobong asap pabrik, menara, bak air yang dipasang tinggi akan tampak dari bayangan.
ü  Tembok stadion, gawang  sepak bola, dan pagar keliling lapangan tenis pada foto berskala 1 : 5.000 juga lebih tampak dari bayangannya.
ü  Lereng yang terjal akan tampak jelas dari bayangan.
7.   Situs
Situs merupakan hasil pengamatan dari hubungan antara obyek dilingkungan sekitarnya atau letak suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya. Contoh : permukiman pada umumnya memanjang di pinggir beting pantai, tanggul alam atau di sepanjang tepi jalan. Persawahan banyak terdapat di daerah dataran rendah, dan sebagainya.
8.   Asosiasi
Keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain, berdasarkan asosiasi tersebut maka bila telah dikenali satu obyek tertentu maka dapat dijadikan petunjuk bagi obyek yang lain. Contoh : jalan kereta api berasosiasi dengan jalan rel kereta  api yang berderet; lapangan sepak bola berasosiasi dengan tiang gawang,   tribun penonton bila itu stadion yang besar.
Unsur interpretasi citra secara individual yang berdasarkan atas kerumitanya dibedakan atas empat tingkat, yaitu :
ü Unsur interpretasi primer : rona dan warna.faktor yang mempengaruhi dan cara pengukurannya
ü Unsur interpretasi sekunder : bentuk, ukuran, dan tekstur.
ü Unsur interpretasi tersier : pola dan bayangan.
ü Unsur interpretasi yang kerumitannya lebih tinggi : situs dan asosiasi

 Semoga Bermanfaat....




Daftar Pustaka
Gunarto, Edi. 2007. Interpretasi Citra, dalam http://inderaja.blogspot.com/2007/11/interpretasi-citra.html, diunduh Minggu, 7 April 2013
IPB. 2010. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra, dalam http://hmit.lk.ipb.ac.id/2010/06/23/penginderaan-jauh-dan-interpretasi-citra, dinduh, Minggu, 7 April 2013
Kusnadi, Rahmat. 2012. Interpretasi Citra, dalam http://rahmatkusnadi6.blogspot.com/2010/10/interpretasi-citra.html, diunduh, Minggu, 7 April 2013

Elemen Sumber Daya Tanah dan Lahan


Tanah dan lahan, mempunyai pengertian yang berbeda. Dalam bahasa Inggris kata soil dan land mmpunyai arti yang sama yaitu tanah, dan dalam perkembangannya kata land lebih berkembang menjadi kata lahan. Tanah merupakan suatu gejala alam permukaan daratan yang membentuk suatu zone dan biasa disebut pedosfer, tersusun atas bahan lepas berupa pecahan dan lapukan batuan bercampur dengan bahan organik. Tanah adalah suatu benda fisis yang berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan bagian paling atas dari kulit bumi dan mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan bahan yang ada di bawahnya sebagai hasil kerja interaksi antara iklim, kegiatan oganisme, bahan induk dan relief selama waktu tertentu. Dapat disimpulkan bahwa ada lima faktor pembentuk tanah yaitu iklim, organisme, bahan induk, relief (topografi) dan waktu. Iklim, organisme dan waktu adalah faktor pembentuk tanah yang aktif, sedangkan bahan induk dan relief merupakan penyedia bahan dan tempat dalam proses pembentukan tanah. Sumberdaya tanah merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan untuk transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah.
Sedangkan lahan adalah lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, vegertasi serta benda2 yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan, termasuk juga hasil kegiatan manusia pada masa lalu dan masa sekarang seperti reklamasi laut dan pembersihan vegetasi sehingga mempunyai ciri alami dan budaya. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya.
Pengelolaan lahan merupakan upaya yang dilakukan manusia dalam pemanfaatan lahan sehingga produktifitas lahan tetap tinggi secara berkelanjutan/jangka panjang. Lahan mempunyai peranan sangat penting bagi kehidupan manusia.  Segala macam bentuk intervensi manusia secara siklis dan permanen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat materiil maupun spirituil yang berasal dari lahan tercakup dalam pengertian penggunaan lahan atau land use. Penggunaan sumber daya lahan dapat di bagi kedalam tiga kelompok manfaat dan peranan, yaitu
1.      Lahan digunakan untuk tempat tinggal, berusaha, bercocok tanam, dan lainnya;
2.      Lahan sebagai kawasan hutan yang menopang kehidupan vegetasi satwa liar;
3.      Lahan sebagai daerah pertambangan yang bermanfaat bagi manusia.
Dalam upaya pengelolaan lahan, sering terjadi benturan di antara sektor-sektor pembangunan yang memerlukan lahan. Fenomena seperti ini seringkali mengakibatkan penggunaan lahan kurang sesuai dengan kapabi litasnya.  Dalam hubungannya dengan penggunaan lahan ini, ada tiga faktor yang mem­pengaruhi nilai lahan, yaitu (i) kualitas fisik lahan, (ii) lokasi lahan terhadap pasar hasil-hasil produksi dan pasar sarana produksinya, dan (iii) interaksi di antara keduanya. Keadaan lahan yang merupakan wilayah dataran bumi menimbulkan presepsi yang berbeda2 tentang kegunaan dan hak2 pendistribusiannya, yang akhirnya berakibat pada kerusakan lahan itu sendiri. Kerusakan lahan sendiri bersifat subyekti dalam maknanya, misal kerusakan lahan untuk kawasan pertanian belum tentu rusak bagi kawasan industri atau tingkat hunian.
Potensi dan ketersediaan sumberdaya lahan untuk pertanian di Indonesia masih cukup luas, namun pada masa yang akan datang diprediksi akan terjadi kompetisi pemanfaatan antar sektor dan sub sektor pembangunan, baik di dalam sub sektor pertanian sendiri, terutama antara pangan dan bioenergi, maupun antar pertanian dengan non pertanian. Beberapa permasalahan yang terjadi dalam pemanfaatan sumberdaya lahan adalah sebagai berikut :
·         Degradasi sumberdaya lahan 
Kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap degradasi lahan antara lain kegiatan deforestasi, industri, pertambangan, perumahan, dan kegiatan pertanian. Apabila kegiatan tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan terjadinya degradasi lahan. Oleh karenanya, implementasi suatu rencana kegiatan pembangunan harus dipikirkan keberlanjutannya dimasa mendatang.
·         Alih fungsi lahan
Alih fungsi lahan pertanian pada dasarnya merupakan suatu bentuk konsekuensi dari adanya pertumbuhan dan perubahan struktur sosial-ekonomi masyarakat yang sedang berkembang. Perkembangan tersebut tercermin dari adanya: (a) pertumbuhan aktivitas pemanfaatan sumberdaya lahan sebagai dampak peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan hidup per kapita, (b) adanya pergeseran kontribusi sektor pembangunan dari sektor-sektor primer (pertanian dan pertambangan) ke sektor-sektor sekunder (manufaktur) dan tersier (jasa).
·         Kompetisi penggunaan dan fragmetasi lahan
Pada masa yang akan datang persaingan penggunaan lahan antara masing-masing sektor seperti pertanian, perindustrian, pertambangan, dan pekerjaan umum (infra struktur, pemukiman, industri) sulit dihindari. Fragmentasi lahan dapat terjadi sebagai akibat banyak petani miskin yang semula memiliki lahan walaupun sempit, karena tekanan struktural ekonomi harus melepas hak kepemilik-an lahannya, baik dengan cara menjualnya maupun menyewakannya kepada petani lain yang umumnya lebih kaya. Akibatnya para petani miskin yang memiliki lahan sempit menjadi kelompok petani yang tidak lagi menguasai lahan dan perluasan penguasaan lahan pada petani lain pun tidak terkonsentrasi dalam satu hamparan tetapi terfragmentasi. Ditambah lagi adanya sistem pewarisan yang dapat menyebabkan skala kepemilikan lahan menjadi semakin sempit dan terfragmentasi. Lahan yang semula cukup luas harus dibagi-bagi sesuai dengan jumlah hak dari ahli waris sehingga luas kepemilihan lahan menjadi sempit, tidak ekonomis dan tidak dapat diandalkan sebagai sumber mata pencaharian sehingga pada akhirnya lahan tersebut dijual.
Semoga Bermanfaat….
Sumber
Hidayat, A. 2009. SUMBERDAYA LAHAN INDONESIA : POTENSI, PERMASALAHAN, DAN STRATEGI PEMANFAATAN, dalam Jurnal Sumber Daya Lahan Vol. 3 No.2.  Balai Besar Penelitian dan Pengemba ngan Sumberdaya Lahan Pertanian : Bogor.
Muhammad, Nur. 2012. Manusia, Tanah dan Lahan. Dalam http://nurs07.blogspot.com/2012/10/manusia-tanah-dn-lahan.html, diunduh Sabtu, 24 Maret 2013

Monday, 30 July 2012

SEJARAH TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA / PWK UNDIP


Terdapat suatu proses perubahan yang membedakan dua dekade terakhir ini dengan periode sebelumnya, baik dalam konteks global maupun nasional. Proses perubahan tersebut adalah berkembang pesatnya laju urbanisasi. Secara global sebagaimana diprediksi oleh PBB, jumlah penduduk perkotaan pada tahun 2025 akan mencakup kurang lebih 60% dari populasi dunia. Berbeda dengan kecenderungan yang terjadi sebelumnya, ketika ledakan pertumbuhan perkotaan terjadi di negara-negara maju, perkembangan perkotaan abad ke-21 ini akan lebih banyak terjadi di negara-negara sedang berkembang. Dalam dua dasawarsa ke depan, diperkirakan jumlah penduduk perkotaan di negara-negara sedang berkembang akan mencapai angka 50-60% dari total populasinya. Untuk Indonesia sendiri, diperkirakan oleh Bappenas, jumlah penduduk perkotaan akan meningkat dengan laju 4% per tahun, sehingga pada tahun 2020 jumlah populasi penduduk perkotaan akan mencapai 60% dari penduduk Indonesia.
Perkembangan penduduk perkotaan membawa implikasi meningkatnya kebutuhan perumahan, prasarana dan fasilitas perkotaan. Ini akan menjadi masalah karena pada kondisi sekarang saja, tingkat penyediaan prasarana dan fasilitas perkotaan tersebut masih tidak sebanding dengan permintaan yang ada. Sebagai akibatnya, adanya kelangkaan tersebut berakibat kepada munculnya permasalahan dalam aspek sosial dan ekonomi. Munculnya kawasan-kawasan kumuh dan meningkatnya jumlah penduduk miskin di kota (urban poverty) adalah salah satu konsekuensi dari ketidakseimbangan tersebut. Sementara permasalahan-permasalahan tersebut belum mendapatkan jawaban pemecahannya, terdapat kecederungan lain dari sisi pengelolaan pembangunan pada skala kota dan wilayah. Keterbatasan pemerintah dalam pembangunan perkotaan dan wilayah telah mendorong munculnya sebuah paradigma baru pentingnya pelibatan pihak lain (stakeholders) dalam proses pengambilan keputusan.
Perubahan permasalahan dan konstelasi dalam pembangunan perkotaan ini berdampak terhadap perencanaan yang lebih baik yang adaptif terhadap perubahan. Ini jelas membutuhkan keahlian dalam bidang perencanaan yang memadai. Di Indonesia keberadaan perencana ini masih menjadi kendala, karena secara kuantitas masih di bawah kebutuhan nyata.
Menyadari semakin meningkatnya kebutuhan terhadap tenaga perencana pembangunan wilayah dan kota akibat pertumbuhan ekonomi dan proses pembangunan nasional, mendorong staf pengajar di Program Studi (PS) Arsitektur, Fakultas Teknik-UNDIP yang sering terlibat dalam kegiatan perencanaan untuk membuka PS Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi). Melalui serangkaian proses yang panjang, akhirnya pada tanggal 18 Maret 1992 SK Dirjen Dikti Nomor 43/DIKTI/KEP/1992 turun sebagai landasan berdiri dan beroperasinya Program Studi (S1) Perencanaan Wilayah dan Kota (PS S1 PWK) di bawah Fakultas Teknik-UNDIP. Mahasiswa angkatan pertama diterima pada bulan September 1992 yaitu sebanyak 33 orang. Setelah menghasilkan lulusan angkatan pertama, Program Studi ini kemudian berkembang menjadi Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota pada tahun 1999, dengan SK Dirjen Dikti Nomor 79/DIKTI/KEP/1999.
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota UNDIP pada saat pendiriannya tahun 1992, merupakan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota yang kedua setelah ITB di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri Indonesia. Saat ini, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota UNDIP telah memperoleh Akreditasi A berdasarkan keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi No. 033/BAN-PT/Ak-X/S1/I/2008. Source : http://www.pwk.ft.undip.ac.id/



TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Teknik Planologi adalah program studi yang berkaitan dengan berbagai bidang ilmu yang lain, baik ilmu keteknikan maupun sosial ekonomi.
Dalam proses pendidikannya nanti ketika teman-teman menjadi mahasiswa PWK, teman-teman akan mendapatkan mata kuliah yang berasal dari bidang studi lain seperti geologi lingkungan, perpetaan, dll. Selain mata kuliah keteknikan, teman-teman juga akan mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu sosial, ekonomi dan ilmu politik seperti pada kuliah Aspek Sosial dalam Perencanaan, Kependudukan, Pengantar Ekonomika Perencanaan, Ekonomika Wilayah dan Kota, Pembiayaan Pembangunan, dan Ekonomika Transportasi, Pengembangan Komunitas, serta Perencanaan dan Politik, dll. Dalam penyelenggaraan perkuliahan tersebut prodi PWK didukung oleh 4 KK (Kelompok Keahlian), yaitu Perencanaan Wilayah & Perdesaan, Perencanaan & Perancangan Kota, Sistem Infrastruktur Wilayah & Kota, dan Pengelolaan Pembangunan & Pengembangan Kebijakan.
Sebagai ilustrasi, misalnya pada sebuah area kota, di dalam area tersebut terdapat banyak hal yang harus dipahami oleh seorang planner (sebutan untuk lulusan PWK). Misalnya saja pada area tersebuat terdapat komponen fisik berupa persawahan, pertokoan, perumahan, dsb. Sedangkan di sisi lain terdapat komponen-komponen non fisik, misalnya kemacetan, kepadatan penduduk, dsb. Jika seorang planner tidak memahami semua hal tersebut, maka tidak akan dapat membuat perencanaan yang baik. Dengan perencanaan yang tidak baik, akan dihasilkan suatu kondisi area yang tidak baik pula. Karena itulah, di PWK diajarkan banyak hal seperti hitungan, ekonomi, sosial, kelembagaan, politik, lingkungan, dan fisik. Perencanaan secara umum diperlukan untuk menciptakan kondisi masa mendatang yang lebih baik lagi; jadi tidak hanya sekedar membangun fisiknya saja.
Terdapat fakta menarik yang sudah sangat terkenal: dimanapun lulusan PWK bekerja, ia akan tetap mempunyai ciri khas yaitu cara berpikirnya yang runtut dan sitematis. Karena ketika teman-teman belajar di PWK,teman-teman tidak hanya belajar perencanaan wilayah dan kota saja tetapi belajar keseluruhan proses yang ada, atau biasa disebut orang sebagai POAC: Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Setelah membuat rencana, harus ada proses yang dijalankan agar hasil rencana tersebut tetap baik dan berada pada rel yang benar. Oleh karena itu, rencana perlu diimplementasikan (dilaksanakan), kemudian dikelola, dan dikendalikan. Membuat sebuah rencana juga harus memperhatikan kondisi-kondisi masa lalu dan sekarang, atau dalam istilah kerennya: ”Learning The Past, Managing The Present, Shaping The Future”.
Prospek Kerja
Seorang alumni PWK mempunyai prospek kerja yang luas karena cakupan ilmunya yang luas, beberapa diantaranya:
  • Instansi Pemerintah
    • Sebagai pengajar, peneliti, dan pegawai di perguruan tinggi negara, Bappenas, PU, Departemen Dalam Negeri, BPPT, Kementerian Perumahan Rakyat, Pemda, Dinas Tata Kota, dan berbagai instansi pemerintah lainnya baik pusat maupun daerah
  • Sektor Swasta
    • Sebagai tenaga ahli di konsultan (perencanaan, pariwisata, dan lainnya) LSI (statistik), bagian pengembangan komunitas dari perusahaan seperti PT. Astra Internasional, PT. MedCo Energi, bagian perencanaan PT. Riau Andalan Pulp and Paper, developer dan kontraktor properti, pengajar dan peneliti di perguruan tinggi swasta, dan lainnya
  • LSM
    • Sebagai aktivitis di LSM karena ilmu sosial, komunitas, dan pemerintahan yang dipelajari seperti di AKATIGA, Sawarung, BIGS, dan lainnya
  • Diluar Keilmuan
    • Karena pola pikirannya yang runtut dan kemampuan untuk mengenal sebuah prinsip dasar manajemen maka lulusan PWK juga bisa bekerja di bank dan beberapa lembaga keuangan lain serta beberapa perusahaan swasta.
Dari forum kaskus
Prospek kerjanya alumni Teknik Planologi (PWK) cukup beragam.
1. Di Pemerintahan:
- Bappenas
- Depkeu
- Dep Pekerjaan Umum
- Dep Perhubungan (terutama yg ambil spesialisasi perencanaan transportasi)
- Depdagri
- Kementrian Lingkungan Hidup
- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
- Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal
- Pemerintah Daerah (Bappeda, Dinas Tata Kota, dll.), dll.
2. Di kantor2 organisasi internasional terkait bidang pembangunan:
- World Bank
- UNDP
- UNHCS (Habitat)
- ILO
- Asean Secretariat
- Asian Development Bank, dll
3. Lembaga Swadaya Masyarakat terkait masalah pembangunan.
- URDI (Urban and Regional Development Institute)
- Yayasan Pelangi
- Akatiga,
- Semeru, dll.
4. Swasta
- Kontraktor/konsultan perencanaan kota/wilayah, pembangunan jalan, dll.
- Developer/Real Estate
- Konsultan Property (Procon Indah, dll)
5. Universitas (Dosen).
Karena jurusan Teknik Planologi/ Perencanaan Wilayah dan Kota ini ilmunya adalah ilmu pembangunan, maka alumni jurusan ini sangat cocok bekerja di pemerintahan dan organisasi2 internasional. Minimnya jumlah lulusannya membuat alumni jurusan ini sangat tidak kesulitan utk mendapatkan pekerjaan. Apalagi bila anda berbhs Inggris dgn baik, organisasi2 internasional sangat membutuhkan anda. Sebagai contoh, lulusan Teknik Perminyakan bekerja dengan gaji 9 juta di luar negeri yg berbiaya hidup tinggi, tetapi bila anda masuk World Bank, UNDP, ADB kantor Jakarta maka anda bergaji awal 20 jutaan dengan biaya hidup standar Indonesia yg murah. Di pemerintahan pun alumni jurusan ini sangat memegang peranan karena karakter ilmunya yg memang ilmu pembangunan. Namun bagi yg berminat di swasta, banyak konsultan dan developer yg akan menerima anda. Karena itu saat ini banyak universitas selain ITB yg membuka jurusan ini (ITS, Unibraw, Undip, Tarumanegara, dll.).
Perguruan tinggi di Indonesia yg ada jurusan planologi :
1. Institut teknologi medan (itm)
2. Univ. Bung hatta padang (ubh)
3. Univ. Tarumanagara jakarta (untar)
4. Univ. Trisakti jakarta (usakti)
5. Univ. Krisnadwipayana (unkris)
6. Univ. Indonusa esa unggul (unesa)
7. Institut teknologi indonesia tangerang (iti)
8. Univ. Pakuan bogor (unpak)
9. Univ. Pasundan bandung (unpas)
10. Univ. Islam bandung (unisba)
11. Institut teknologi bandung (itb)
12. Univ. Winayamukti (unwim) sumedang
13. Unikom bandung
14. Institut teknologi nasional bandung (ittenas)
15. Univ. Negeri sebelas maret solo (uns)
16. Univ. Diponegoro (undip)
17. Univ. Gajah mada yogyakarta (ugm)
18. Sekolah tinggi teknologi nasional yogyakarta (sttnas)
19. Univ. Islam sultan agung semarang (unnisula)
20. Univ. Brawijaya malang (unibraw)
21. Institut teknologi nasional malang (itn)
22. Institut teknologi sepuluh November Surabaya (its)
23. Univ. Sains dan teknologi jayapura (ustj) papua
24. Univ. Hasanuddin makassar (unhas)
25. Univ. 45 makassar
26. Univ. Islam alauddin makassar (uin)
27. Univ. Sam ratulangi (unsrat) manado